Minggu, 20 Februari 2011

CEMBURU ATAU MEREBUT (Korban atau Tersangka)


Ini kisahnyata !!. hiasan dari hidup Q. Entah knapa Q merasa benar-benar bodoh (lahirnya di desa untuk masalah perasaan agak bodoh). Za maklum karena memang Q itu kurang sosial ma orang dan gak suka denger gosip, yang penting hati heppy ja.... itu sebabnya knapa Q selalu melangkah di jalan yang salah. Aduh betapa berat za hidup nee pa lagee ditambah tanggungjawab seorang laki-laki?? Mulai sekarang Q akan merubah kkhidupan Q (mudah-mudahan bisa, Do’akan za). Gini awalnya ... ( enaknya masa lalu pa masa sekarang za? Emmm masa sekarang ja dlu za) da sebuah pertanyaan yang sangat melekat dalam diri Q. “ gimana ya rasanya jadi orang ke 3?”. Ini lah dari dulu kenapa Q tidak bisa jadi orang/anak yang paling utama, memang karena Q 2h sukanya sok cuek za, bner jga 2h mungkin gara-gara menyepelekan hal yang kecil. Emang aneh dech klo dipikir-pikir, “Q 2h sangat malu klo ma cwe”. Inilah motto yang sangat meleka dari masa SD Q. So mulai.a Q mikir tentang perasaan 2h masa2 aliyah (jauh btg za zamannya, “mas orang desa za....”) walau pun di masa SMP sempat merasakannya (sebenarnya sih bukan mau Q itu tapi emang ikut-ikutan temen) “hallo bukankah itu alasan yang salah??”. Terserah lah maw di bilang g5n..
Udah ya untuk pengenalan karakternya, skarang waktunya main perasaan (asal bukan di permainkan). Begini asal muasalnya. Q tuh mikir punya cwek 2h enaknya habis sekolah aja, agar bisa fokus pelajaran. jadi agak nyantai untuk masalah ini. “tapi udah punya pilihan dong pastinya ?”. za sambil berjalan aja.... emang klo masalah hati sich Q sangat mikir betul-betul, mulai dari paras wajah, pintar agama dan lainnya, sholehah, agak tinggi, dan asal keluarganya. “koq ribet bgt za...”. itukan Cuma keinginan Q ja... dan tidak lupa unik (lain dari yang lain) + pendiem. Itu sebabnya Q selalu bergerak agak lambat (sebenarnya emang lambat dari dlu). Lha dari sinilah kenapa Q selalu jadi yang ke 3. Ich gak enak bgt dech, Q mulai za ...... (oo... dari tadi belum mulai za...).
Kenapa za hati ini, dulu engkau mencoba mendekat kepadaQ tapi Q tak berharap banyak kepadamu, tapi setelah engkau tahu klo Q gak berharap banyak engkau tiba-tiba pergi dan dengan gaya kamu yang membuat orang terlena sehingga engkau meninggalkan Q dan mendekati dia. Mulai dari sinilah Q merasa bahwa memang Q dibutakan oleh Cintamu. Tapi Q tak bisa mengkataknnya dan Q pun sok cuek aja (cz inget cwek itu setelah sekolah aja). Engkau pun dah punya tempat curhatan lain sehingga Q pun tak kuasa mengusikknya. Dan Q pun tetap jadi yang ke 2 (Cuma menebak). Q pun menahan perasaan ini hingga sudah waktunya tiba (“kapan...?” “klo dah lulus lah”). Semakin di tahan ternyata Q pun jga ikut sakit karena dibalik ke cuekan Q, Q pun sedikit memikirkannya pa lagi Q, engkau dan dia adalah tmen yang paling akrab Q knal. Dan mulai dari sinilah Q mulai perlahan menjauhinya..... karena Q pikir mereka adalah cocok Q pun jga mencari perhatian lain agar tidak terbayang engkau lagi. Semakin lama menjalaninya, dalam pikiran Q pun terusik lagi oleh bayangan engkau (karena emang udah lulus) dan akhirnya Q mencoba ingin dekat dengan engkau (karena ada celah), tapi bagai manapun Q masuk ternyata masih di tahan karena memang meraka adalah satu dan tiba-tiba Q memecahkannya hingga menjadi segi 3. “Emang dasar Perebut Milik orang ...”. terserah lah mau di kata apa Q pun rela. Walau pun akhirnya engkau tidak memilih Q. Tapi yang membuat Q lebih bingung lagee “ternyata engkau menutupi hubunganmu dengannya dan menginginkan Q hadir dalm hidupmu”. “Dibalik perhatian engkau kepadaku ternyata engkau pun masih memberi harapan juga kepadanya”.
Ini lah yang paling Q takuti.. masak masa lalu bisa terulang kembali?, karena memang dulu Q pun sudah mengalami masa-masa seperti ini... (bisa dikatakan Q itu korban perselingkuhan/ orang ke 3). Terserah garis takdir menulis gimana yang penting Q sudah punya langkah2 jitu agar Q tidak jatuh seperti dulu lagii.. tapi Q benar-benar-benar takut (takut jatuh kayak dulu lagi)....
Bersambung ...

0 komentar:

Posting Komentar